... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Kamis, 07 Agustus 2014
HARGA SEBUAH MUJIZAT
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Senin, 28 Juli 2014
TONGKAT PENUNTUN
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Rabu, 23 Juli 2014
BUNGA UNTUK IBU
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
KISAH PITA KUNING
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Jumat, 18 Juli 2014
ASAL USUL HARI CENGBENG
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Kamis, 29 Agustus 2013
Peran Pemuda Jelang 28 Oktober 2013
Generasi muda sebagai pilar utama dalam keberlangsungan bangsa ini,
ternyata mulai sekarang dipertanyakan keberadaanya. Tidak hanya ketika
ide dan pemikiran tetapi pengantar atau pun bahasa yang dituturkan ikut
menjadi bagian terpenting di dalamnya.
Aspek yang rasanya juga jelas terlihat ialah aspek bahasa. Gaya
bahasa gaul, yang sebenarnya merupakan bahasa dialek Jakarta turut hadir
dalam novel genre ini. “Loe-gue” yang dihadirkan tidak sekadar membuat
“teenlit” begitu terasa dekat dengan para remaja, tapi justru dunia
remaja yang demikian itulah yang tercermin lewat “teenlit”. Belum lagi
cara penyajiannya yang menyerupai penulisan buku harian, lebih
membangkitkan keterlibatan para pembacanya. Keberadaan bahasa Indonesia
di dalamnya tidak terencana, tidak terpola dengan baik, apa saja bisa
masuk. Baik pada percakapan (dialog) maupun pada deskripsi, bahasa yang
dipakai adalah bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa slang, yang hanya
dimengerti oleh anak remaja. Keberagaman bahasa dan warna-warni
percakapan tidak dapat dipola dan hampir tidak terkendali.
Lihatlah nama acara-acara di stasiun-stasiun televisi, siaran nasional, dan daerah. Simaklah laporan kalangan wartawan televisi dan radio (mereka pakai istilah reporter). Perhatikanlah ucapan-ucapan pembawa acara (mereka menyebutnya presenter) di layar kaca. Dengarlah dengan cermat bahasa mereka yang sehari-hari tampil di televisi, dalam acara apa pun.
Dengarlah nama-nama acara di stasiun-stasiun radio siaran. Bacalah nama-nama rubrik di media massa cetak. Perhatikanlah judul buku-buku fiksi dan nonfiksi yang dijual di toko-toko buku, di pasar buku, atau di kaki lima sekalipun. Simaklah dosen dan guru (terutama yang masih muda) yang sedang mengajar di depan kelas. Dengarkanlah petinggi atau pejabat negara yang sedang berpidato atau berbicara kepada wartawan.
Tiap saat dengan mudah kita dapat mendengarkan bahasa buruk. Contohnya, gue banget, thank you banget, ya!, Semakin lama semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia dengan seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi. Kalau benar isi pepatah lama, “Bahasa menunjukkan bangsa”, maka untuk mengetahui dan mengurai “wajah” negara dan bangsa kita kini tak usah mendatangkan ahli dari Amerika Serikat atau Australia.
Mengobati “penyakit” berbahasa yang sudah parah diperlukan usaha bersama semua pemangku kepentingan bahasa
Lihatlah nama acara-acara di stasiun-stasiun televisi, siaran nasional, dan daerah. Simaklah laporan kalangan wartawan televisi dan radio (mereka pakai istilah reporter). Perhatikanlah ucapan-ucapan pembawa acara (mereka menyebutnya presenter) di layar kaca. Dengarlah dengan cermat bahasa mereka yang sehari-hari tampil di televisi, dalam acara apa pun.
Dengarlah nama-nama acara di stasiun-stasiun radio siaran. Bacalah nama-nama rubrik di media massa cetak. Perhatikanlah judul buku-buku fiksi dan nonfiksi yang dijual di toko-toko buku, di pasar buku, atau di kaki lima sekalipun. Simaklah dosen dan guru (terutama yang masih muda) yang sedang mengajar di depan kelas. Dengarkanlah petinggi atau pejabat negara yang sedang berpidato atau berbicara kepada wartawan.
Tiap saat dengan mudah kita dapat mendengarkan bahasa buruk. Contohnya, gue banget, thank you banget, ya!, Semakin lama semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia dengan seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi. Kalau benar isi pepatah lama, “Bahasa menunjukkan bangsa”, maka untuk mengetahui dan mengurai “wajah” negara dan bangsa kita kini tak usah mendatangkan ahli dari Amerika Serikat atau Australia.
Mengobati “penyakit” berbahasa yang sudah parah diperlukan usaha bersama semua pemangku kepentingan bahasa
Indonesia untuk kembali menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa atau
orang Indonesia. Warga negara yang sangat bangga sebagai orang Indonesia
tentunya (seharusnya) juga mencintai bahasa nasionalnya sendiri. Kita,
putra-putri Indonesia abad 21, yang benar-benar mencintai bahasa
Indonesia pastilah menjungjung tinggi bahasa persatuan kita. Untuk
mendukung usaha serius ini, pemerintah dan DPR perlu segera membahas dan
mengesahkan Rancangan Undang-undang tentang Kebahasaan yang dibuat
tahun lalu.
Banyak bangsa lain, seperti Filipina dan India, merasa iri dan sangat terkagum-kagum terhadap bangsa kita karena memiliki bahasa persatuan, bahasa negara, bahasa nasional. Ini merupakan salah satu jati diri asli bangsa kita.
Banyak bangsa lain, seperti Filipina dan India, merasa iri dan sangat terkagum-kagum terhadap bangsa kita karena memiliki bahasa persatuan, bahasa negara, bahasa nasional. Ini merupakan salah satu jati diri asli bangsa kita.
Masyarakat komunikatif tercipta dengan mampu merasakan kepekaan dan
kepedulian serta siap berargumentasi untuk memecahkan permasalahan
kompleks yang diidap. Konkretnya dengan cara itu, dapat mengawal
masa-masa sulit ini menuju suatu arah yang tepat. Bagaimanapun
menyiapkan seperangkat infrastruktur yang kapabel menyikapi setiap
kejutan-kejutan arah angin perubahan secara tenang dan penuh perhitungan
dalam konsensus, dapat menyediakan energi yang berlimpah ketika kita
amat membutuhkannya. Mengkedepankan prioritas tidak bermakna
mengesampingkan kebutuhan lainnya.
Barangkali, sebagai bagian dari bangsa ini. Memang yang lebih diperlukan adalah kemampuan memelihara memori dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah bersama kita lalui sebagai sebuah bangsa. Sebuah refleksi adalah juga jalan untuk upaya merawat ingatan; bahwa kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan beratus dekade oleh berjuta pejuang; bahwa otoriterianisme merupakan jalan yang tidak kita inginkan sebagai bangsa yang bercita-cita dewasa; bahwa represifitas melumpuhkan demokrasi dan intelektualitas; bahwa kebebasan berpikir dan bersuara telah dibayar mahal oleh nyawa yang tak ternilai; bahwa korupsi dan kawan-kawannya telah menghancurkan sendi-sendi keadilan dan meluluhlantakkan harapan untuk hidup makmur, sejahtera, dan berkeadilan; bahwa wajah pendidikan menentukan karakter bangsa; bahwa persoalan bangsa ini adalah persoalan yang harus kita selesaikan secara bersama-sama; bahwa jauh dari tempat kita berada banyak sosok yang tulus bergerak untuk sesuatu yang memiliki nilai kontribusi tinggi daripada kita yang hanya berdiam sambil berpura diskusi dan turut berpikir.
Pada berbagi kegiatan pun diharapkan masyarakat terutama orang muda harus merasa ikut memiliki lambang jati diri bangsa Indonesia. Rasa ikut memiliki itu akan mengukuhkan rasa persatuan terhadap satu tanah air, satu negara kesatuan, satu bangsa, satu bahasa persatuan, satu bendera, satu lambang negara, dan satu lagu kebangsaan. Pada gilirannya rasa persatuan itu akan menjauhkan perpecahan bangsa sekalipun berada dalam era reformasi dan globalisasi.
Marilah mulai tumbuhkan kembali kesadaran dalam diri masing-masing untuk berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan indah. Ketika berbahasa asing, berbahasa asinglah dengan baik! Ketika berbahasa daerah, berbahasa daerahlah dengan baik! Ketika berbahasa nasional, berbahasa nasionallah dengan baik pula!
Barangkali, sebagai bagian dari bangsa ini. Memang yang lebih diperlukan adalah kemampuan memelihara memori dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah bersama kita lalui sebagai sebuah bangsa. Sebuah refleksi adalah juga jalan untuk upaya merawat ingatan; bahwa kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan beratus dekade oleh berjuta pejuang; bahwa otoriterianisme merupakan jalan yang tidak kita inginkan sebagai bangsa yang bercita-cita dewasa; bahwa represifitas melumpuhkan demokrasi dan intelektualitas; bahwa kebebasan berpikir dan bersuara telah dibayar mahal oleh nyawa yang tak ternilai; bahwa korupsi dan kawan-kawannya telah menghancurkan sendi-sendi keadilan dan meluluhlantakkan harapan untuk hidup makmur, sejahtera, dan berkeadilan; bahwa wajah pendidikan menentukan karakter bangsa; bahwa persoalan bangsa ini adalah persoalan yang harus kita selesaikan secara bersama-sama; bahwa jauh dari tempat kita berada banyak sosok yang tulus bergerak untuk sesuatu yang memiliki nilai kontribusi tinggi daripada kita yang hanya berdiam sambil berpura diskusi dan turut berpikir.
Pada berbagi kegiatan pun diharapkan masyarakat terutama orang muda harus merasa ikut memiliki lambang jati diri bangsa Indonesia. Rasa ikut memiliki itu akan mengukuhkan rasa persatuan terhadap satu tanah air, satu negara kesatuan, satu bangsa, satu bahasa persatuan, satu bendera, satu lambang negara, dan satu lagu kebangsaan. Pada gilirannya rasa persatuan itu akan menjauhkan perpecahan bangsa sekalipun berada dalam era reformasi dan globalisasi.
Marilah mulai tumbuhkan kembali kesadaran dalam diri masing-masing untuk berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan indah. Ketika berbahasa asing, berbahasa asinglah dengan baik! Ketika berbahasa daerah, berbahasa daerahlah dengan baik! Ketika berbahasa nasional, berbahasa nasionallah dengan baik pula!
Bambu Pengganti Besi Beton
Ringan, ulet, lurus, rata, keras, namun
kuat adalah beberapa karakter bambu yang jarang ditemukan pada bahan
bangunan lain.
Selain harganya murah, material ini juga mudah
dibelah, mudah dibentuk, dan mudah diangkut karena ringan. Banyaknya
karakter positif bambu membuat tanaman yang termasuk dalam kelas
rumput-rumputan ini tak tergerus perkembangan zaman.
Hampir sama dengan kayu, dalam bidang
konstruksi bambu memiliki banyak potensi yang patut dikembangkan.
“Bambu bisa dimanfaatkan dalam struktur bangunan, mulai dari
lantai, dinding, atap, dan bagian bangunan lain. Bahkan, bisa jadi
bahan pembuat mebel,” menurut Ujang Tenaga Tukang yang sedang mencoba membangun sebuah rumah di Sukamantri Tanjungkerta dengan kontruksi bambu sebagai pengganti bata dan besi.
Memanfaatkan bambu sebagai bahan
konstruksi terhitung gampang-gampang susah. Untuk hasil memuaskan,
sebagai bahan konstruksi bambu sebaiknya ditebang pada usia sekitar
4-5 tahun. Terlalu muda atau terlalu tua dari rentang usia tersebut
tidak bagus. Apabila terlalu muda, bambu umumnya akan menyusut, bila
terlalu tua bambu akan mudah pecah, karena kurang liat.
Pada saat ini, mengawetkan bambu secara
alamiah dengan perendaman selama 3-6 bulan dianggap banyak kalangan
memakan waktu terlalu lama. Untuk mempersingkat proses ini, sebagai
alternatif proses pengawetan bisa dilakukan dengan menggunakan bahan
kimia.
Langganan:
Postingan (Atom)